TUBERCULOSIS
TUBERCULOSIS
Disusun
Oleh :
|
Kelompok 4
1.
Endah Kusuma Wati (14.401.16.020)
2.
Ervin
Nurdiana (14.401.16.023)
3.
Faiz Adibi (14.401.16.026)
4.
Fida Nur Wulandari (14.401.16.029)
5.
Heri Dwi Saputro (14.401.16.038)
|
AKADEMI
KESEHATAN RUSTIDA
PROGRAM
STUDI D-III KEPERAWATAN
KRIKILAN-GLENMORE-BANYUWANGI
2016/2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Illahi Robbi atas
segala limpahan rahmat serta hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan judul ”Tuberculosis” tepat pada waktunya. Tak lupa sholawat serta
salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sehingga
dapat berada di zaman terang benderang ini.
Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, tetapi kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi
penulis dan pembaca.
Kami
mengucapkan terimakasih kepada :
1. AnisYuliastutik,S.Kep.,Ns.,M.Kes.SelakuDirekturAkademi
KesehatanRustida.
2. Aripin,
S.Kep, Ns.,M.Kes. Selaku KA Prodi D III Keperawatan.
3. Ns.Roshinta S,A., M.Kep.
Selaku guru pembimbing mata kuliahPatofisiologi.
Oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan
makalah berikutnya. Taklupa,kami mengucapkan terimakasih kepada rekan kelompok
kami yang telah bekerjasama dalam mengerjakan makalah ini, atas perhatiannya
kami ucapkan terimakasih
Krikilan,10 Maret 2017
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar
Belakang........................................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah..................................................................................................... 1
1.3
Tujuan....................................................................................................................... 1
1.4
Manfaat..................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1Definisi
Tuberculosis.................................................................................................. 3
2.2 Etiologi..................................................................................................................... 4
2.3
Tanda-Tanda Gejala Tuberculosis............................................................................. 5
2.4
Patofisiologi Tuberculosis......................................................................................... 5
2.5
Pemeriksaan Laboratorium........................................................................................ 9
2.6
Penatalaksanaan........................................................................................................ 9
2.7
Komplikasi.............................................................................................................. 10
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan............................................................................................................. 11
3.2
Saran....................................................................................................................... 11
Daftar Pustaka................................................................................................................. 12
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Tuberculosis adalah penyakit
granulomatosa kronik menular yang disebabkan oleh myobacterium tuberculosis.
Penyakit ini melibatkan paru namun dapat mengenai organ atau jaringan manapun
di tubuh. Biasanya bagian tengan granuloma tuberculosis mengalami nekrosis
kaseosa. Pada penyakit Tuberculosis biasanya ditandai dengan demam ringan dn
malaise, kelemahan,anoreksia,demam atau menggigil, keringat
malam,keletihan,penurunan berat badan,sakit kepala, dan batuk. Pada penyakit
ini gejala klinisnya dapat mencakup batuk produktif,nyeri dada
pleuritik,dispnea, dan hemoptisis.
Pada penyakit tuberculosis
memerlukan pemeriksaan diagnostik lebih lanjut dengan cara uji kulit PPD (Purifed
Protein Derivative),analisis sputum,foto toraks. Untuk penderita tuberculosis
dilakukan terapi atau penatalaksanaan berupa regimen empat obat (paling
sedikit),terapi preventif,operasi reseksi agar angka kesembuhan yang diharapkan
lebih tinggi lagi.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana proses terjadinya Tuberculosis ?
1.3 Tujuan
1.
Agar mahasiswa mampu memahami dan mengetahui definisi Tuberculosis.
2.
Agar mahasiswa mampu memahami dan mengetahui etiologi dari Tuberculosis.
3.
Agar mahasiswa mampu memahami dan mengetahui tanda dan gejala Tuberculosis.
4.
Agar mahasiswa mampu memahami dan mengetahui patofisiologi Tuberculosis.
5.
Agar mahasiswa mampu mengetahui dan memahami pemeriksaan laboratorium.
6.
Agar mahasiswa mampu memahami dan mengetahui penatalaksaan dari Tuberculosis.
7.
Agar mahasiswa mampu memahami dan mengetahui komplikasi dari Tuberculosis.
1.4 Manfaat
1.
Bagi klien :
Klien dapat mengetahui lebih luas
tentang penyakit yang diderita , serta tanda dan gejala awal dari tuberculosis
(TB) atau proses terjadinya tuberculosis. Bahkan penderita dapat mengetahui akan
bahayanya dari penyakit tuberculosis. Dari hal tersebut penderita dapat
mengetahui pemeriksaan apa saja dan terapi apa saja untuk meningkatakan
kesembuhannya.
2. Bagi Keluarga
Keluarga dapat mengetahui tentang
penyakit tuberculosis serta tanda gejala awal dari penyakit tuberculosis
sekaligus berantisipasi dalam pencegahan dari penyakit tuberculosis. Dengan
begitu jika ada dalam sekeluarga menderita tuberculosis ,keluarga dapat
melakukan pemeriksaan lebih lanjut da melakuka terapi agar kesembuhan nya
meningkat.
3.
Bagi Institusi
Sebagai acuan pembelajaran bagi
akademi kesehatan rustida dan dapat meningkatkan pengetahuan tentang penyakit
tuberculosis , instsitusi dapat memberikan himbauan kepada mahasiswa dan
masyarakat tentang proses tuberculosis dan penyakit tuberculosis,cara
pemeriksaannya serta terapi agar kesembuhannya meningkat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Tuberculosis adalah
penyakit granulomatosa kronik menular yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini melibatkan paru namun
dapat mengenai organ atau jaringan manapun di tubuh. Biasanya bagian tengah
granuloma tuberculosis mengalami nekrosis kaseosa.
Tuberculosis berkembang
subur pada kondisi kemiskinan, berjejal, dan penyakit kelemahan kronik.
Demikian pula orang tua dengan sistem imun yang lemah juga rentan terkena
penyakit ini. (Cornain 2015)
Tuberculosis
dibedakan menjadi dua yaitu tuberculosis primer dan tuberculosis sekunder.
Tuberculosis primer adalah suatu bentuk penyakit yang terjadi pada pasien yang
sebelumnya tidak pernah terpajan dan tidak pernah tersentisasi. Orang tua dan
pasien dengan sistem imun yang sangat tertekan dapat kehilangan sentivitas
terhadap basil tuberculosis,sehingga dapat mengalami tuberculosis primer lebih
dari sekali . Sekitar 5% dari pasien yang baru terinfeksi menderita penyakit
signifikan.Konsekuensi tuberculosis primer adalah penyakit ini menginduksi
hipersentivitas dan meningkatkan daya tahan , fokus jaringan parut dapat menyimpan
basil yang viabel selama bertahun-tahun, dan dapat menjadi ridus reaktivasi di
kemudian hari apabila sistem imun pejamu terganggu, dan jarang tetapi dapat
menimbulkan tuberculosis progresif. Komplikasi ini terjadi pada pasien dengan
imunitas terganggu atau memiliki gangguan pertahanan tubuh yang tidak
spesifik.,misalnya khas pada anak-anak dengan malnutrisi atau pada orangtua.
Tuberculosis meningkat pada pasien HIV positif dengan derajat imunosupsesi yang
lanjut(misalnya hitung (CD4+ dibawah 200 sel ) keadaan dengan imunosupsesi
mengakibatkan kegagalan dalam menimbulkan reaksi imunologi yang dimediasi oleh
sel T CD4+ yang akan mengontrol fokus primer. Sedangkan Tuberculosis sekinder
adalah penyakit yang muncul pada pejamu yang sebelumnya tersentisasi. Penyakit
ini dapat terjadi segera sesudah tuberculosis primer,namun seringkali timbul
akibat reaktivasi lesi primer terutama ketik daya tahan pejamu melemah.
Tuberculosis dapat juga berasal dari reinfeksi eksogen karena menurunnya
proteksi yang ditimbulkan oleh penyakit primer atau menghiriup sejumlah besar
basil yang virulen. Tuberculosis sekunder selalu dapat dipertimbangkan pada
pasien dengan HIV positif yang muncul dengan penyakit paru. Perlu diketahui
,meskipun peningkatan resiko tuberculosis terjadi pada semua stadium penyakit
HIV, manifestasinya berbeda-beda bergantung pada derajat munosupsesi. (Nasar 2015)
2.2 Etiologi
Mycobacterium adalah bakteri
berbentuk batang yang tahan asam (yaitu, bakteri tersebut memiliki banyak kandungan
lipid kompleks yang siap berikatan dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen [carbol fuchsin] dan resisten terhadap
penghapusan warna). M.
tuberculosishominis bertanggungjawab pada sebagian besar kasus tubrkulosis;
sumber infeksi biasanya ditemukan pada orang-orang dengan penyakit paru aktif.
Transmisi biasanya langsung, melalui inhalasi organisme di udara dari
bulir-bulir udara yang timbul dari batuk atau sekresi teerkontaminasi dari
orang yang terinfeksi. Tuberkulosis orofaring dan usus diperoleh dari minum
susu yang terkontaminasi oleh infeksi
mycobacterium bovis saat ini jarang di negara maju, namun sering ditemukan
pada negara dengan sapi yang menderita
tubrkulosis dan penjualan susu yang tidak terpasteurisasi. Mycobacterium
yang lain, terutama mycobacterium avium
complex, tidak terlalu virulen dibandigkan M. tuberculosis dan jarang sekali menyebabkan penyakit pada orang yang
imunokompeten. Namun , bakteri ini dapat menyebabkan penyakit pada 10% hingga
30% pasien dengan AIDS.
1. Disebabkan
oleh Mycobacterium tuberculosis, yaitu
basilius aerobik tahan asam yang tidak menghasilkan spora serta tidak
menghasilkan endo atau eksotoksin.
2. Penyebab-penyebab
yang jarang lainnya adalah M. Bovisdan M.
Africanum.
3. Penularan
terjadi melalui percikan pernapasan yang mengandung bakteri.
4. Basilius
dapat bertahan dalam percikan udara dalam waktu yang lama.
5. Mengalami
replikasi di dalam makrofag alevolar setelah fagositosis.
6. Sel-T
supresor CD8 membunuh makrofag yang terinfeksi dan merusak jaringan lokal, yang
mengakibatkkan terbentuknya granuloma nekrotik kaseosa.
7. 1°
TB: penyakit asimtomatik atau yang dapat sembuh sendiri yang menyebabkan
penyakit laten.
8. TB
aktif: Gejala klinis ditambah sputum atau foto toraks yang positif.
9. TB
laten: PPD positif tetapi tidak menunjukkan manifestasi klinis, foto toraks,
atau kultur membuktikan adanya infeksi yang aktif; penyakit yang aktif dapat
terjadi bilamana system imun melemah.
10. TB
diseminata: penyebaran basilius secara sistemik sebagai akibat mekanisme
pertahanan tuan rumah yang tidak memadai (misalnya HIV atau status gangguan
imunologi yang lain). (M.C. 2012)
2.3
Tanda dan Gejala
1.
Tb
1° seringkali asimtomatik tetai dapat disertai dengan demam ringan dan malaise.
2.
Tb
2° (aktif) ditemukan dengan manifestasi anoreksia, kelemahan, demam/menggigil,
keringat malam, keletihan, penurunan berat badan, sakit kepala, dan batuk.
3.
Seraya
penyakit berlanjut, gejala klinis dapat mencakup batuk produktif, nyeri dada
pleuristik, dipsnea, dan hemoptitis.
4.
Komplikasi-komplikasi
penyakit mencakup pneumtoraks, empyema, pericarditis, dan hemoptysis yang masif
5.
Dapat
terjadi kelainan organ ekstrapulmonal. (M.C. 2012)
2.4
Patofisiologi
Penularan tuberculosis paru terjadi karena kuman dibersinkan atau
dibatukkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara. Partikel infeksi ini
dapat menetap dalam udara bebas selama 1-2 jam, tergantung pada ada tidaknya
sinar ultraviolet, ventilasi yang buruk dan kelembaban. Dalam suasana lembab
dan gelap kuman dapat tahan selama berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila
partikel infeksi ini terhisap oleh orang sehat akan menempel pada jalan nafas
atau paru-paru. Partikel dapat masuk ke alveolar bila ukurannya kurang dari 5
mikromilimeter.
Tuberculosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas
perantara sel. Sel efektornya adalah makrofag sedangkan limfosit ( biasanya sel
T ) adalah imunoresponsifnya. Tipe imunitas seperti ini basanya lokal,
melibatkan makrofag yang diaktifkan ditempat infeksi oleh limposit dan
limfokinnya. Raspon ini desebut sebagai reaksi hipersensitifitas (lambat).
Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya diinhalasi
sebagai unit yang terdiri dari 1-3 basil. Gumpalan basil yang besar cendrung
tertahan dihidung dan cabang bronkus dan tidak menyebabkan penyakit (
Dannenberg 1981 ). Setelah berada diruang alveolus biasanya dibagian bawah
lobus atas paru-paru atau dibagian atas lobus bawah, basil tuberkel ini
membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak didaerah
tersebut dan memfagosit bakteria namun tidak membunuh organisme ini. Sesudah
hari-hari pertama leukosit akan digantikan oleh makrofag . Alveoli yang
terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut.
Pneumonia seluler akan sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa atau
proses akan berjalan terus dan bakteri akan terus difagosit atau berkembang
biak didalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju kelenjar
getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih
panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang
dikelilingi oleh limposit. Reaksi ini butuh waktu 10-20 hari.
Nekrosis pada bagian sentral menimbulkan gambangan seperti keju yang
biasa disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang terjadi nekrosis kaseosa dan
jaringan granulasi disekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblast
menimbulkan respon yang berbeda.Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa
membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang
mengelilingi tuberkel.
Lesi primer paru dinamakn fokus ghon dan gabungan terserangnya kelenjar
getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon. Respon lain yang
dapat terjadi didaerah nekrosis adalah pencairan dimana bahan cair lepas
kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Materi tuberkel yang dilepaskan dari
dinding kavitas akan masuk kedalan percabangan trakeobronkhial. Proses ini
dapat terulang lagi kebagian paru lain atau terbawa kebagian laring, telinga
tengah atau usus.
Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa pengobatan dan
meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen brokus dapat
menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapt dekat dengan perbatasan
bronkus rongga. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir
melalui saluran penghubung sehingga kavitas penuh dengan bahan perkejuan dan
lesi mirip dengan lesi kapsul yang terlepas. Keadaan ini dapat dengan tanpa
gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan brokus sehingge
menjadi peradangan aktif.
Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah.
Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah
dalam jumlah kecil, kadang dapat menimbulkan lesi pada oragan lain. Jenis
penyeban ini disebut limfohematogen yang biasabya sembuh sendiri. Penyebaran
hematogen biasanya merupakan fenomena akut yang dapat menyebabkan tuberkulosis
milier.Ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga
banyak organisme yang masuk kedalam sistem vaskuler dan tersebar keorgan-organ
lainnya. (Noc 2015)
|
Kuman
Tuberkulosa
|
|
inhalasi
|
|
Saluran
Pernapasan
|
|
Saluran pernapasan atas
|
|
Bakteri yang besar
Bertahan dibronkus
|
|
Peradangan Bronkus
|
|
Penumpukan Sekret
|
|
Saluran pernapasan bawah
|
|
Paru-paru
|
|
Alveolus
|
|
Penyebaran infeksi secara
hematogen
|
|
Alveolus mengalami
konsolidasi & Eksudasi
|
|
Demam
|
|
Gg Pertukaran gas
|
|
Efektif
|
|
Tidak
Efektif
|
|
Anoreksia malaise
Mual,muntah
|
|
Penumpukan sekret
|
|
Efektif
|
|
Tidak efektif
|
|
Anoreksia malaise mual,muntah
|
|
Demam
|
|
Peningkatan suhu tubuh
|
|
Sekret keluar saat batuk
|
|
Sekret tidak keluar saat
batuk
|
|
Batuk terus menerus
|
|
Terhirup orang sehat
|
|
Resiko penyebaran infeksi
|
|
Bersihan jalan napas tidak
efektif
|
|
Perubahan nutrisi < dari
kebutuhan tubuh
|
|
Gg Pola istirahat tidur
|
|
Hipertermia
|
|
Intolerans aktivitas
|
|
Keletihan
|
2.5 Pemeriksaan Lab
1.
Uji
kulit PPD (purified protein derivative) merupakan pemeriksaan penyaring yang
terlihat dalam waktu 48-72 jam setelah injeksi, denga demikian, aplikasinya
terbatas di UGD.
a)
Paparan
terhadap TB akan menyebabkan indurasi di
tempat injeksi (eritema saja tidak dinilai positif)
b)
Vaksin
BCG sebelumnya dapat menyebabkan PPD yang positif palsu; bagaimanapun, PPD
menunjukkan hasil yang positif yang sejati.
c)
Pasien
yang HIV positif, atau menderita gangguan imunologi,dapat anergik; dengan
demikian pasien ini memerlukan indurasi yang lebih kecil untuk mendapatkan
hasil yang positif.
2.
Analisis sputum dapat memerlihatkan basilus
tahan asam; kultur tumbuh sangat ambat dan mempunyai sensitivitas yang
terbatas.
3. Foto torkaks kemungkinan memperlihatkan
adenopati hilus atau mediastinum pada tuberculosis
primer.
a)
Tuberculosis 2°
biasanya menyebabkan lesi (dapat kavitas) pada lobus atas
b)
Tuberculosis militer menyebabkan
nodul-nodul kecil diseluruh paru. (M.C. 2012)
2.6 Penatalaksanaan
1. Regimen
empat-obat (paling sedikit) sebaiknya mulai diberikan pada pasien dengan TB
yang aktif sampai pemeriksaan kerentanan obat didapatkan
a)
Terapi dimulai dengan
isoniazoid, rifampin, pyrazinamide, dan streptomisin, atau embulatol.
b)
Terapi sebaiknya
diteruskan sekurang -kurangnya 6 bulan
c)
Ketidaktaatan dengan
regimen obat sering ditemukan dan memberikan andil timbulnya TB yang resisten
terhadap beberapa obat (MDRTB) terapi yang diobservasi langsung perlu dilakukan
pada pasien yang tidak dapat dipercaya ketaatan dalam pengobatan
2. Terapi
preventif dengan isoniazoid perlu mulai diberikan pada setiap orang yang
mempunyai kontak dekat dengan pasien yang menderita tuberculosis yang aktif,
converter PPD baru-baru ini (yaitu pasien dengan tuberculosis laten), dan pada
individu yang anergik yang diketahui mempunyai kontak TB
a) 6
bulan untuk orang dewasa
b) 9
bulan untuk anak-anak
c) 12
bulan untuk pasien gangguan imunologik
3. Oprsi
reseksi mempunyai angka kesembuhan yang tinggi pada pasien dengan TB yang
resisten beberapa obat dan penyakit local.
(M.C. 2012)
2.7 Komplikasi
1. 10-15%
penyakit yang laten akhirnya berkembang menjadi tuberkulosis yang aktif; terpi
memberikan angka kesembuhan >90%.
2. Sebagian
besar pasien diterapi sebagai pasien rawat jalan.
3. Perawatan
di rumah sakit sebaiknya dipertimbangkan pada pasien yang tampak sakit akut,
MDRTB, orang tua, tuna wisma, penyalahgunaan obat, atau pasien dengan anak
kecil di rumah.
4. Tindak
lanjut dan akses ke sarana kesehatan yang memadai, bersamaan dengan instruksi
yang jelas tentang prosedur isolasi di rumah dan regimen obat harus dijamin
sebelum pasien dipulangkan.
5. Pasien
dinilai dapat menularkan penyakit sekurang-kurangnya selama 2 minggu setelah
terapi dimulai.
6. Kontak
dekat sebaiknya menjalani pemeriksaan skrining untuk penyakit yang aktif, dan
jika negatif, diberikan terapi preventif.
7. Semua
kasus TB yang aktif harus dilaporkan ke departemen kesehatan. (M.C. 2012)
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Penyakit Tuberculosis (TBC) disebabkan
adanya bakteri mycobacterium
tuberculosis. Bakteri ini menyerang daerah paru dan setelah itu menyebar ke
jaringan atau organ tubuh terutama menyerang pada system imunitas sehingga
system imun pada seseorang akan menurun.
Oleh karena itu untuk mencegah adanya
penyebaran penyakit ini sebaiknya kita harus saling menjaga kebersihan diri dan
lingkungan karena tuberculosis termasuk penyakit yang sangat gampang terlular
maka dari itu harus segera ditangani dengan cepat
3.2
Saran
1.
Bagi Klien
Setelah mengetahui dan memahami
tentang penyakit tuberculosis lebih luas dan tanda gejalanya klien atau
penderita sebaiknya lebih meningkatkan lebih waspada akan bahayanya penyakit
tuberculosis. Agar kesehatan nya terjaga pasien sebaiknya lebih menjaga
kebersihan dan mengikuti saran yang baik dari dokter maupun tim kesehatan
lainya.
2. Bagi Keluarga
Keluarga juga berperan penting
dalam meghadapi masalah tuberculosis, dengan cara menjaga kebersihan dan
menjaga pola hidup nya lebih baik lagi dari sebelumnya agar terhindar dari
penyakit tuberculosis.
3. Bagi Institusi
Tuberculosis dapat menimbulkan
bahaya bagi keluarga maupun masyarakat lainnya , jadi sebaiknya institusi lebih
berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan tentang penyakit tuberculosis
serta membrikan himbauan untuk mahasiswa maupun masyarakat sekitar akan
pentingnya dalam menjaga kebersihan dan kesehatan agar terhindar dari
tuberculosis.
DAFTAR PUSTAKA
Cornain, I Made Nasar Santoso. Buku Ajar Patofisiologi.
Singapore: Hooi Ping Chee, 2015.
M.C., Jeffrey. Master
Plan Kedaruratan Medik. Tengerang Selatan: BINARUPA AKSARA, 2012.
Nasar, I Made. Buku
Ajar Patologi. Singapore: Vivian Tan, 2015.
Noc, Nanda Nic. Aplikasi
Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis. Jogkarta: Mediaction, 2015.
Komentar
Posting Komentar